Kehidupan itu apa?
Itulah pertanyaan yang sering membuatku merasa gelisah
ketika aku beranjak meninggalkan bangku SD. Pertanyaan aneh itu muncul ketika
aku mulai kelas 1 SMP, dimana aku lebih sering menyendiri dan menulis. Aku
sering melihat cermin,melihat diriku sendiri. Bertanya Tanya siapakah aku
sebenarnya? Untuk apakah aku dilahirkan? Dan sampai sekarang aku tak jua
menemukan jawabannya.
Waktu berlalu sedemikian cepat, aku berusaha menemukan setiap
jengkal makna kehidupan ini. Hidup dengan impian besar ingin membahagiakan
orang lain. Selalu berjuang dengan daya dan upayaku, selalu bangkit meski jatuh
berkali kali. Akan tetapi, kini aku kembali terjatuh semakin jauh.
Aku mencoba membuka mata, menatap ke sekelilingku. Dan aku
menyadari bahwa ternyata aku sendirian tanpa siapapun juga. Bertanya tanya tentang
apa yang telah kulakukan sejauh ini? Untuk apa aku melakukan ini semua? Karena
pada akhirnya semua akan pergi tanpa bersisa.
Kembali aku memejamkan mata, dan aku semakin menyadari
rinduku seakan tak berujung. Orang orang yang aku sayangi semakin jauh
meninggalkanku di dunia ini. Aku bertanya-tanya, dimanakah kini mereka berada.
Akankah aku mampu menjumpainya kembali? Apakah mereka masih mengingatku
kembali? Aku benar benar rindu mereka, orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat.
Aku selalu berusaha menutupi ini semua dengan senyum dan
semangatku. Aku tak boleh terlihat lemah dan rapuh di mata siapapun juga. Aku
tak ingin siapapun juga melihat air mataku. Aku ingin selalu ada buat orang
lain. Aku ingin selalu ada dalam kenangan setiap orang orang. Dan aku akan
selalu berdoa “ya Allah, catatlah setiap kebaikan yang hamba lakukan menjadi
kebaikan Bapak pula,”
Aku menunggu saat itu tiba, menjumpai Bapak dengan rasa
bangga. Dan aku akan berkata pada Bapak bahwa anaknya terlalu kecil bagi dunia,
akan tetapi anaknya mampu menjadi besar bagi orang lain.
20 mei 2014