Selasa, 27 Agustus 2013

HARI DI MANA BAPAK PERGI

04 Agustus 2012, sebuah hari dimana tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Salah satu hari terpahit dalam hidupku, engkau dipanggil menghadap yang maha kuasa setelah sakitmu yang hampir satu tahun. Engkau pergi di usia 89 tahun. Saat itu adalah awal bulan puasa menjelang pertengahan.
Pak, kau tau aku saat itu sudah merasakan pedihnya bulan puasa. Biasanya engkaulah yang membangunkan aku dari tidur untuk sahur, engkaulah yang selalu masak, dan engkau juga lah yang menemani aku sahur dan berbuka puasa. Akan tetapi di Ramadhan tahun itu, aku sahur di warung dan berbuka puasa di warung. Saat itu engkau sudah terbaring tak berdaya di rumah sakit.
Aku merasa Allah itu tak adil, membiarkan aku selalu sendirian. Apakah Allah tak tahu betapa aku iri dengan orang lain yang memiliki keluarga, bisa berkumpul bersama saat sahur dan berbuka, sedangkan aku, selalu sendirian dan kesepian. Salahkah aku jika mendambakan sebuah keluarga lengkap dan bahagia tanpa kekurangan apapun?
Oh ya Pak, setiap kali menjengukmu di rumah sakit, aku tak pernah melihatmu sadar. Aku masih ingat suatu malam aku pulang dari pendaftaran kuliahku di Malang aku langsung ke rumah sakit cuma ingin menunjukkan KTM tanda bahwa aku sudah kuliah sesuai harapanmu, akan tetapi saat itu engkau lelap dalam tidurmu. Aku tak tega untuk membangunkanmu dari tidur, aku hanya memandang wajahmu yang sangat tua dan lelah. Terlihat sekali tulang pipih, kurus dan gurat gurat wajahmu dimakan renta usia. Aku terpana tanpa mampu berkata-kata. Ah, mungkin besok pagi saja aku kembali ke rumah sakit dan mengatakannya padamu.
14 Agustus 2012 aku terjaga di sebuah pagi yang tak terduga. Saat itu aku masih asyik di depan laptop ngurusin kerjaan dan berencana mau menjengukmu ke rumah sakit sebelum pergi ke kampus. Pukul 07.25 tiba-tiba Kakak tiri ku yang cowok telepon dan mengatakan Bapak nggak ada, aku melongo, sesaat aku kebingungan tanpa bisa mengatakan apapun. Segera saja aku mandi dan pergi ke rumah sakit. Aku kelabakan, mengurusi prosesi pemakamanmu sendirian. Saat itu, masih nggak ada satupun yang datang.
Pukul 09.00 jenazahmu tiba, tak banyak yang ada di rumah. Aku baru datang dari mengurusi sewa terob, ke Pak RT, dan lain-lain. Kakak tiriku yang cewek langsung ngomong dengan ketus, “kamu keluyuran darimana saja?” ya Allah, ucapannya itu masih saja menusuk ke hati, nggak berubah sama sekali. Aku Cuma ngomong sekedarnya, selebihnya aku masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Satu-satunya orang yang aku sayangi pergi, dan aku ga tahu bagaimana hidupku selanjutnya.
Setelah agak lega menangis, aku pergi keluar menjumpai para ta’ziah. Tak begitu banyak, karena teman-teman Bapak sudah habis, family yang datang bisa di hitung dengan jari. Aku tahu semasa hidup Bapak dibenci sama family-familynya, Bapak dituduh menjual warisan. Padahal, saudara-saudara Bapak lah yang menghabiskan harta pribadi Bapak tanpa mau bertanggung jawab. Setelah harta Bapak habis, mereka menelantarkan Bapak dalam kondisi stroke begitu saja.
Proses pemakaman berlangsung cepat, nggak ada yang bisa aku tuliskan. Beberaa temanku pulang setelah proses pemakaman, semua pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah aku sendirian di rumah kecil ini. Aku kembali masuk kamar dan menangis sejadi-jadinya, semua penyesalanku berkumpul, rasa bersalah karena selalu menyusahkan Bapak.
Malam hari, aku nggak bisa tidur. Tahlil di rumah Kakak tiriku ku yang perempuan, tapi aku tak diberitahu. Aku Cuma diem di kamar, masih menangis. Saat itu aku ingin pergi dari rumah, entah menginap di tempat siapa. Aku merasa ga akan bisa tidur di rumah, karena hatiku benar-benar kosong. Aku menangis, menangis dan terus menangis, sampai aku kecapekan dan membawa tangis dalam tidurku.
Pagi aku terjaga, dan aku merasakan ada bagian yang hilang dari hidupku. Aku memandang pintu kamar yang tak pernah terkunci, biasanya Bapak selalu ngomel di depan pintu sana karena udah lewat jam 6 aku masih saja di tempat tidur. Tapi kini nggak ada yang muncul dari pintu itu, semuanya sudah berbeda. Aku kembali menangis. Aku nggak tahu bagaimana lagi kehidupanku selanjutnya, aku sama siapa, nggak akan pernah ada yang peduli

Batu, 28 Agustus 2013


Ku tuliskan ini bersama linangan air mataku

KALIMAT PERTAMA BUAT BAPAK

Aku ga tau harus memulai dari mana, akan tetapi yang kutahu "Segala sesuatunya terasa berarti saat kita kehilangan" mungkin kalimat itulah yang dapat menggambarkan kehidupanku sekarang. Betapa banyak waktu yang ku sia-sia kan saat aku hidup bersamamu. Aku lebih sering meninggalkan engkau sendirian di rumah, dan mencari kebahagiaanku sendiri di luar sana. Tak peduli betapa beratnya beban mu, mencari nafkah dan semua pekerjaan rumah tangga engkau kerjakan sendirian. Mulai mencari uang buat kehidupan sehari-hari, ke pasar belanja, masak, menyiapkan makanan, bersih-bersih dan semua pekerjaan rumah tangga lainnya yang engkau kerjakan di usia mu yang renta dan kondisi tubuhmu yang telah lumpuh. ya Allah, betapa durhaka hamba terhadap Bapak
Aku bikin blog ini sebagai diary, menuliskan semua kenangan kita, mengadukan semua perjalanan hidupku, karena tak tahu lagi aku harus bercerita padamu lewat mana.
Pak, kepergianmu masih belum bisa aku ikhlaskan. Cuma engkau seorang yang kutahu menyayangiku dengan tulus dan ikhlas, cuma engkau seorang yang selalu membaca ayat-ayat Al-Qur'an di tengah malam buat aku, dan cuma engkau seorang satu-satunya keluarga yang aku miliki. Semoga saat aku mati nanti, blog ini ada yang membaca dan orang itu akan tahu bahwa engkaulah Ayah terhebat di dunia



4 Agustus 2011 yang lalu, tepat di bulan Ramadhan,Bapak pergi meinggalkanku. Sebuah kehilangan yang sangat berat dalam hidupku. Dan yang ku ingat tentang Ranadhan itu, Bapak pergi, Selebihnya nggak ada yang penting.
Bapak satu satunya orang yang ku sayangi, dan satu satunya orang yang menyayangiku dengan ikhlas dan tulus.