Malam ini adalah akhir dari bulan Ramadhan, dan esok adalah
hari raya idul fitri. Aku tak pernah bisa tidur pada tahun terakhir ini di malam menjelang hari kemenangan
bagi umat Muslim. Alasannya sama, ini Ramadhan kedua dan akan menjadi lebaran
kedua dimana aku menjalaninya seorang diri. Satu satunya keluarga yang aku
miliki sudah tak lagi ada di dunia ini keberadaannya. Awal Ramadhan yang lalu,
tanpa pesan apapun Bapak dipanggil menghadap sang Khalik.
Aku pergi, ke sebuah hutan yang berada di puncak salah satu bukit
kotaku. Tak ada siapapun disana. Hanya aku dan sepi. Ini adalah tempat dimana
aku biasa berteriak sekuat ku, menangis sekencangku, memandang bintang di
kejauhan sana tanpa ada satupun manusia tahu dan terusik akan keberadaanku di
sini. Kucoba membuang setiap keping pedih dan amarah yang tak lagi mampu aku bedakan.
Aku terus menangis sampai serasa sulit sekali bernafas,
tenggorokanku tercekat, dan air mataku seakan habis mengalir. Aku pandangi
bintang di langit, mencari cari dimanakah kini Bapak berada? Adakah Bapak
mendengar tangis kerinduanku yang teramat dalam? Adakah Allah mendengar di
dunia ini aku tak lagi memiliki siapa siapa?
Aku iri dengan mereka yang berada di sekitarku. Mereka yang
punya keluarga, dan banyak memiliki waktu bersama. Mereka yang berbahagia.
Sedangkan kenapa aku seorang diri? Mengapa satu-satunya orang yang kutahu
menyayangiku dengan tulus harus pergi secepat itu?
Kini, aku tak pernah tahu apa tujuan hidupku. Kemana aku
harus melangkah? Setiap kali pulang ke rumah, tak ada siapa siapa lagi. Semuanya
terasa hampa. Rezeki yang kuperoleh dengan peluh dan air mataku ini seakan tak
ada artinya tanpa bisa kunikmati berdua dengan Bapak.
Dingin udara pegunungan ini tak ada artinya. Semua
kenanganku bersama Bapak menghangatkan setiap inci ragaku. Aku masih saja
terisak, dan aku tak peduli. Aku hanya ingin menjumpai Bapak, memeluknya se
erat yang aku bisa dan takkan kulepaskan lagi. Mendengarnya bercerita atau
membaca ayat ayat Al Qur’an sampai aku tertidur di sampingnya. Waktu begitu
cepat berlalu, namun itu takkan mampu menghapus setiap kenanganku bersama
Bapak.
Cacian dan hinaan dalam hidupku belum juga usai. Aku masih
berusaha menghadapinya dengan tersenyum, seperti Bapak yang selalu tegar
menghadapi badai kehidupan yang tak pernah berhenti menerjangnya. Bahkan sampai
maut menjemput, Bapak tak pernah menunjukkan rasa takutnya. Ketakutan Bapak
yang kutahu, ia masih tak bisa membiarkanku sendirian melawan getirnya
kehidupan. Dan Bapak benar, aku tak pernah bisa setegar Bapak. Aku tak mampu
hidup seperti Bapak. Dunia ini terlalu besar, dan aku terlalu kecil tanpa
Bapak.
Aku tak pernah tahu dan tak bisa berbagi bebanku. Aku nggak
ingin lagi merepotkan siapapun, aku nggak ingin lagi berhutang kebaikan pada
siapapun. Sisa hidup ini, kucoba untuk membalas setiap kebaikan yang pernah diberikan
oleh orang lain kepada Bapak dan aku.Demi Bapak, aku berusaha untuk tetap hidup
dan membalas setiap kebaikan yang pernah mereka tanamkan dalam kehidupanku dan
kehidupan Bapak.