Minggu, 27 Juli 2014

MENJELANG LEBARAN KEDUA SETELAH BAPAK TIADA



Malam ini adalah akhir dari bulan Ramadhan, dan esok adalah hari raya idul fitri. Aku tak pernah bisa tidur pada  tahun terakhir ini di malam menjelang hari kemenangan bagi umat Muslim. Alasannya sama, ini Ramadhan kedua dan akan menjadi lebaran kedua dimana aku menjalaninya seorang diri. Satu satunya keluarga yang aku miliki sudah tak lagi ada di dunia ini keberadaannya. Awal Ramadhan yang lalu, tanpa pesan apapun Bapak dipanggil menghadap sang Khalik.

Aku pergi, ke sebuah hutan yang berada di puncak salah satu bukit kotaku. Tak ada siapapun disana. Hanya aku dan sepi. Ini adalah tempat dimana aku biasa berteriak sekuat ku, menangis sekencangku, memandang bintang di kejauhan sana tanpa ada satupun manusia tahu dan terusik akan keberadaanku di sini. Kucoba membuang setiap keping pedih dan  amarah yang tak lagi mampu aku bedakan. 

Aku terus menangis sampai serasa sulit sekali bernafas, tenggorokanku tercekat, dan air mataku seakan habis mengalir. Aku pandangi bintang di langit, mencari cari dimanakah kini Bapak berada? Adakah Bapak mendengar tangis kerinduanku yang teramat dalam? Adakah Allah mendengar di dunia ini aku tak lagi memiliki siapa siapa?

Aku iri dengan mereka yang berada di sekitarku. Mereka yang punya keluarga, dan banyak memiliki waktu bersama. Mereka yang berbahagia. Sedangkan kenapa aku seorang diri? Mengapa satu-satunya orang yang kutahu menyayangiku dengan tulus harus pergi secepat itu?

Kini, aku tak pernah tahu apa tujuan hidupku. Kemana aku harus melangkah? Setiap kali pulang ke rumah, tak ada siapa siapa lagi. Semuanya terasa hampa. Rezeki yang kuperoleh dengan peluh dan air mataku ini seakan tak ada artinya tanpa bisa kunikmati berdua dengan Bapak.

Dingin udara pegunungan ini tak ada artinya. Semua kenanganku bersama Bapak menghangatkan setiap inci ragaku. Aku masih saja terisak, dan aku tak peduli. Aku hanya ingin menjumpai Bapak, memeluknya se erat yang aku bisa dan takkan kulepaskan lagi. Mendengarnya bercerita atau membaca ayat ayat Al Qur’an sampai aku tertidur di sampingnya. Waktu begitu cepat berlalu, namun itu takkan mampu menghapus setiap kenanganku bersama Bapak. 

Cacian dan hinaan dalam hidupku belum juga usai. Aku masih berusaha menghadapinya dengan tersenyum, seperti Bapak yang selalu tegar menghadapi badai kehidupan yang tak pernah berhenti menerjangnya. Bahkan sampai maut menjemput, Bapak tak pernah menunjukkan rasa takutnya. Ketakutan Bapak yang kutahu, ia masih tak bisa membiarkanku sendirian melawan getirnya kehidupan. Dan Bapak benar, aku tak pernah bisa setegar Bapak. Aku tak mampu hidup seperti Bapak. Dunia ini terlalu besar, dan aku terlalu kecil tanpa Bapak.

Aku tak pernah tahu dan tak bisa berbagi bebanku. Aku nggak ingin lagi merepotkan siapapun, aku nggak ingin lagi berhutang kebaikan pada siapapun. Sisa hidup ini, kucoba untuk membalas setiap kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain kepada Bapak dan aku.Demi Bapak, aku berusaha untuk tetap hidup dan membalas setiap kebaikan yang pernah mereka tanamkan dalam kehidupanku dan kehidupan Bapak.