04 Agustus 2012, sebuah hari dimana tak akan
pernah aku lupakan seumur hidupku. Salah satu hari terpahit dalam hidupku,
engkau dipanggil menghadap yang maha kuasa setelah sakitmu yang hampir satu
tahun. Engkau pergi di usia 89 tahun. Saat itu adalah awal bulan puasa
menjelang pertengahan.
Pak, kau tau aku saat itu sudah merasakan
pedihnya bulan puasa. Biasanya engkaulah yang membangunkan aku dari tidur untuk
sahur, engkaulah yang selalu masak, dan engkau juga lah yang menemani aku sahur
dan berbuka puasa. Akan tetapi di Ramadhan tahun itu, aku sahur di warung dan
berbuka puasa di warung. Saat itu engkau sudah terbaring tak berdaya di rumah
sakit.
Aku merasa Allah itu tak adil, membiarkan aku
selalu sendirian. Apakah Allah tak tahu betapa aku iri dengan orang lain yang
memiliki keluarga, bisa berkumpul bersama saat sahur dan berbuka, sedangkan
aku, selalu sendirian dan kesepian. Salahkah aku jika mendambakan sebuah
keluarga lengkap dan bahagia tanpa kekurangan apapun?
Oh ya Pak, setiap kali menjengukmu di rumah
sakit, aku tak pernah melihatmu sadar. Aku masih ingat suatu malam aku pulang
dari pendaftaran kuliahku di Malang aku langsung ke rumah sakit cuma ingin menunjukkan
KTM tanda bahwa aku sudah kuliah sesuai harapanmu, akan tetapi saat itu engkau
lelap dalam tidurmu. Aku tak tega untuk membangunkanmu dari tidur, aku hanya memandang
wajahmu yang sangat tua dan lelah. Terlihat sekali tulang pipih, kurus dan
gurat gurat wajahmu dimakan renta usia. Aku terpana tanpa mampu berkata-kata.
Ah, mungkin besok pagi saja aku kembali ke rumah sakit dan mengatakannya
padamu.
14 Agustus 2012 aku terjaga di sebuah pagi yang
tak terduga. Saat itu aku masih asyik di depan laptop ngurusin kerjaan dan
berencana mau menjengukmu ke rumah sakit sebelum pergi ke kampus. Pukul 07.25
tiba-tiba Kakak tiri ku yang cowok telepon dan mengatakan Bapak nggak ada, aku melongo,
sesaat aku kebingungan tanpa bisa mengatakan apapun. Segera saja aku mandi dan
pergi ke rumah sakit. Aku kelabakan, mengurusi prosesi pemakamanmu sendirian.
Saat itu, masih nggak ada satupun yang datang.
Pukul 09.00 jenazahmu tiba, tak banyak yang ada
di rumah. Aku baru datang dari mengurusi sewa terob, ke Pak RT, dan lain-lain.
Kakak tiriku yang cewek langsung ngomong dengan ketus, “kamu keluyuran darimana saja?” ya Allah, ucapannya itu masih saja
menusuk ke hati, nggak berubah sama sekali. Aku Cuma ngomong sekedarnya,
selebihnya aku masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya tanpa suara.
Satu-satunya orang yang aku sayangi pergi, dan aku ga tahu bagaimana hidupku
selanjutnya.
Setelah agak lega menangis, aku pergi keluar
menjumpai para ta’ziah. Tak begitu banyak, karena teman-teman Bapak sudah
habis, family yang datang bisa di hitung dengan jari. Aku tahu semasa hidup
Bapak dibenci sama family-familynya, Bapak dituduh menjual warisan. Padahal,
saudara-saudara Bapak lah yang menghabiskan harta pribadi Bapak tanpa mau
bertanggung jawab. Setelah harta Bapak habis, mereka menelantarkan Bapak dalam
kondisi stroke begitu saja.
Proses pemakaman berlangsung cepat, nggak ada
yang bisa aku tuliskan. Beberaa temanku pulang setelah proses pemakaman, semua
pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah aku sendirian di rumah kecil ini. Aku
kembali masuk kamar dan menangis sejadi-jadinya, semua penyesalanku berkumpul,
rasa bersalah karena selalu menyusahkan Bapak.
Malam hari, aku nggak bisa tidur. Tahlil di rumah
Kakak tiriku ku yang perempuan, tapi aku tak diberitahu. Aku Cuma diem di
kamar, masih menangis. Saat itu aku ingin pergi dari rumah, entah menginap di
tempat siapa. Aku merasa ga akan bisa tidur di rumah, karena hatiku benar-benar
kosong. Aku menangis, menangis dan terus menangis, sampai aku kecapekan dan
membawa tangis dalam tidurku.
Pagi aku terjaga, dan aku merasakan ada bagian
yang hilang dari hidupku. Aku memandang pintu kamar yang tak pernah terkunci,
biasanya Bapak selalu ngomel di depan pintu sana karena udah lewat jam 6 aku
masih saja di tempat tidur. Tapi kini nggak ada yang muncul dari pintu itu,
semuanya sudah berbeda. Aku kembali menangis. Aku nggak tahu bagaimana lagi
kehidupanku selanjutnya, aku sama siapa, nggak akan pernah ada yang peduli
Batu, 28 Agustus 2013
Ku tuliskan ini bersama linangan air
mataku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar