KEDUNYAN (NAFSU AKAN DUNIAWI)
Sebenarnya ini adalah masalah
keluarga sejak lama, tepatnya sejak Kakek meninggal. Hal yang dipermasalahkan
adalah Kakek meninggal dengan meninggalkan 7 orang anak( 3 laki – laki dan 4
wanita) tanpa sempat memberikan wasiat/amanahnya tentang pembagian hak
waris. Akar masalah keluargaku
sebenarnya berawal saat Kakek masih ada,
sedangkan Ayahku dinas di Medan, Pulau Sumatra, tergabung dalam divisi Bukit
Barisan.
Ayahku adalah seorang pejuang,
Perwira pertama dari kota Batu. Dulu, sebagai ucapan terima kasih atas
perjuangan Ayahku dalam pergerakan kemerdekaan, Desa memberikan tanah yang
cukup luas sebagai imbalan atas jasanya. Kemudian, Ayahku dipindah dinas di
Medan. Permasalahan muncul dimulai dari sini, dari cerita yang kudengar, tak
satupun saudara/saudari Ayahku yang bekerja saat itu. Pada akhirnya mereka
menjual tanah dan harta pribadi Ayahku untuk menyambung hidup.
Ayahku tidak mengetahui akan hal
ini. Pada tahun 1965, merupakan salah satu sejarah kelam dalam negeri ini.
Terjadi pemberontakan dimana – mana, Ayahku yang saat itu melatih pemuda
setempat tentang kemiliteran, dituduh sebagai pemberontak oleh atasannya yang
tidak suka pada Ayahku. Ayahku pernah bercerita semasa hidupnya, bahwa ini
adalah sentiment pribadi. Kebetulan komandan Ayahku adalah orang Medan yang
tidak suka Ayahku yang berasal dari Pulau Jawa. Ayahku dijebloskan ke penjara,
dicampur dengan para pemberontak (tahanan politik).
Sampai peristiwa 65 berakhir,
Ayahku pulang dengan status sebagai desersi. Tidak mendapatkan pensiun sebagai
hak nya. Namun Ayahku tidak berkecil hati, saat itu harapan Ayahku adalah sawah
di kampong halamannya yang akan digarap apabila pulang tanpa pensiun.
Namun, alangkah kagetnya Ayahku.
Saat kembali ke kota Batu, apa yang diharapkan oleh Ayahku bertolak belakang
dengan harapannya. Sawah, tanah dan harta Ayahku di jual oleh saudara/saudari
dan iparnya. Mereka tak mau bertanggung jawab. Ayahku kaget luar biasa sampai
stroke. Ayahku masuk rumah sakit tanpa ada kepedulian dan perhatian dari
saudara/saudarinya. Ayahku di zalimi. Beruntungnya, dulu Ayahku adalah orang
baik. Masih ada teman dan sahabatnya serta anak buahnya dulu yang peduli pada
Ayahku. Mereka dengan ikhlas membantu Ayahku, termasuk biaya pengobatan dan
hidup.
Dan sisa hidup Ayahku, dihabiskan
dengan mempertahankan amanah Kakek bahwa rumah peninggalan Kakek tidak boleh
dijual. Tak sedikit tekanan dari keponakan – keponakan Ayahku untuk menjual
warisan ini dengan system dibagi rata. Ayahku bersikukuh menegakkan hukum agama
dengan cara membagi fisik sesuai dengan anjuran Islam. Saat itu, Kakak tiriku
yang cowok dan yang cewek tidak ambil peduli. Aku dengan sikapku yang keras
berusaha membela Ayahku dengan cara apapun, termasuk menghunus pedang dan siap
mati demi melindungi Ayahku.
Tak ada satupun familyku yang
menyukai keberadaanku. Fitnah dan tekanan dalam hidupku datang silih berganti.
Family – familyku berusaha mempersulit hidupku dengan cara – cara kotor mereka.
Akan tetapi ajaran Ayahku untuk tetap berjiwa ksatria dan melawan dari depan
kutanamkan dalam hidupku. Ayahku sering kali menasihatiku untuk tetap sabar,
tanpa perlu membalas mereka. Akan tetapi aku bersikukuh melawan kezaliman
mereka dengan cara kekerasan.
Sampai suatu hari, Ayahku
termakan oleh siasat licik mereka. Ayahku diundang bertemu Kakak dan Adiknya
untuk musyawarah, akan tetapi pada kenyataannya Ayahku dipaksa tanda tangan
sebuah pernyataan yang pada intinya berisikan kesepakatan menjual hak waris
dengan sistem di bagi rata. Bibiku yang paling muda dan tidak memiliki anak termasuk
mendapat bagian sama rata, dan hak nya diberikan pada putra Bibiku yang paling
tua yang masih hidup. Di sini kelihatan keserakahan mereka. Ayahku yang saat
itu tanpa didampingi oleh siapapun entah kenapa bisa tanda tangan di atas
kertas tersebut. Aku maklum, mungkin Ayahku tertipu oleh siasat busuk mereka.
Dan pada malam hari saat aku
tertidur, aku terjaga. Aku nelihat Ayahku dengan pandangan kosongnya usai membaca
Al Qur’an/. Aku bertanya, kenapa sampai selarut itu Ayahku belum juga tidur dan
duduk termenung. Saat itu Ayahku hanya menggelengkan kepala, namun dasar aku
adalah anak keras kepala, aku paksa sampai Ayahku kemudian bercerita mengenai
kejadian sore itu, tentang Ayahku yang dipaksa datang dan menandatangi
kesepakatan yang menjadi keinginan mereka. Ayahku mengatakan penyesalannya. Dan
di sudut matanya, kulihat Ayahku meneteskan air mata. Meskipun Ayahku berusaha
menyembunyikannya dariku, aku masih sempat melihat air mata tersebut.
Sampai Ayahku sakit parah pun,
tekanan masih saja ada. Prinsipku tetap, akan kubela Ayahku meskipun harus
mengorbankan apapun yang aku miliki. Harga diriku tidak dapat ditawar dengan
apapun. Sampai suatu ketika, Ayahku meninggal dan permasalahan hak waris ini
belum selesai juga.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar