Bapak pergi
ketika aku sudah benar – benar bisa mengemudikan mobil dengan sempurna. Aku
sudah bisa kemana – mana. Jauh di relung hatiku yang terdalam,aku seringkali merasa
iri dengan orang – orang yang bisa berlibur bersama keluarganya. Sering
diam-diam air mataku menitik manakala aku menemani orang lain berlibur bersama
keluarganya. Aku tak pernah merasa mengajak satu-satunya keluargaku berlibur.
Bapak seoranglah
yang mendedikasikan seluruh kehidupannya buat aku. Bapak seoranglah yang kutahu
kasih sayangnya tulus. Hanya Bapak seoranglah yang benar benar ku miliki. 2
tahun berlalu semenjak Bapak tiada. Semuanya terasa hampa dan tidak berarti. Tiap
malam aku seringkali menangis tersedu-sedu manakala mengingat semua kenanganku
bersama Bapak. Tak pernah ada satupun yang mengerti betapa aku kehilangan Bapak,
betapa aku merasa kesepian tanpa Bapak. Ramai dan bising kehidupanku seakan tak
pernah berarti tanpa Bapak.
Aku pulang ke
rumah, terasa sepi dan berbeda. Taka da lagi senyum khas Bapak menyambutku,
menjawab salamku, menanyakan apa yang
kulakukan hari ini, mengambilkanku makan dan menemaniku makan. Itu semua udah
nggak ada lagi dalam kehidupanku. Rezeki dari Allah ini seakan tak berarti.
Kadang, aku pulang membawa makanan seakan aku biarkan begitu saja. Aku sering
memandang makanan yang aku bawa dengan pandangan hampa. Dulu, seringkali aku pulang
membawa makanan dan menikmatinya bersama Bapak, meskipun imakanan yang kubawa
itu sangat sederhana, tapi rasanya menjadi luar biasa saat bisa menikmatinya
bersama satu-satunya orang yang kusayangi. Kini, aku semakin mengerti bahwa
uang bukanlah segalanya. Uang bukanlah kebahagiaan.
“Pak, ku ingin engau tahu aku
merindukanmu. Engkaulah hal paling berharga dalam kehidupanku. Maafkanlah
anakmu yang belum sempat membahagiakanmu. Semua ini terasa tak berarti tanpamu.
Kehidupan ini sering kali menyakitkanku. Aku merindukan segala tentang dirimu.
Pak, aku hanya bisa mengenang setiap kasih sayangmu manakala banyak orang
sering melukai perasaanku. Aku semakin mengerti, hanya engkaulah yang tak
pernah melukai perasaanku. Aku hanya bisa memelukmu melalui doa doa yang selalu
upanjatkan hanya untukkmu. Tunggu aku di surga sana Pak, tunggu cerita tentang
anakmu yang melawan kekejaman dunia dengan kasih sayang yang pernah engkau
ajarkan. Tunggu aku di surge sana Pak, tunggu ceritaku yang akan
membanggakanmu. Aku sayang sama Bapak…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar